Satwa Endemik Hutan Jawa Terancam Punah

 

Hutan

Hutan

 

Malang, Erabaru.Net – Berbagai jenis satwa endemik yang hidup di hutan-hutan di Pulau Jawa terancam punah, akibat rusaknya hutan di pulau itu yang berpengaruh terhadap habitat satwa tersebut.

Koordinator Pengaman Hutan ProFauna Indonesia Radius Nursidi di Malang, Senin (22/2), mengatakan, beberapa jenis satwa langka yang terancam punah di hutan-hutan Pulau Jawa itu di antaranya adalah Lutung Jawa (trachypithecus auratus), Owa Jawa (hylobates moloch).

Selain itu, juga ada Surili (Presbytis comata), Macan Tutul (panthera pardus), Elang Jawa (spizaetus bartelsi), dan Merak (pavo muticus).

“Terancam punahnya satwa langka ini memang bukan hanya disebabkan rusaknya hutan semata, tapi juga akibat perburuan liar untuk komoditas perdagangan,” ucapnya menegaskan.

Ia mengakui, kondisi hutan di Jawa sudah cukup memprihatinkan. Atas dasar keprihatinan itu ProFauna Indonesia gencar melakukan kampanye dan demonstrasi, dimana seluruh peserta aksi menutup seluruh tubuhnya dengan baju terusan warna putih dan menutup kepalanya dengan kotak bergambar pohon.

Selain melakukan kampanye dan aksi demosntrasi, ProFauna Indonesia juga mendesak pemerintah untuk menghentikan deforestasi hutan di Jawa untuk membuka lahan pertanian atau perladangan dan perkebunan baru.

Menurut dia, minimnya pos-pos penjagaan (pengamanan) di kawasan hutan turut andil dalam mempermudah terjadinya kerusakan hutan dan perburuan satwa liar.

“Oleh karena itu, pemerintah harus memperketat pengawasan dan menempatkan petugas di setiap pintu keluar masuk hutan serta titik-titik rawan lainnya,” katanya menambahkan.

Laju deforestasi yang dikeluarkan Departemen Kehutanan periode 2003-2006 di Pulau Jawa mencapai 2.500 hektare/tahun atau 0,2 persen dari total deforestasi di Indonesia.

Penyumbang terbesar deforestasi di Jawa adalah Jawa Timur yang mencapai 438,1 hektare per tahun dengan rincian hutan primer 25,1 hektare (5,7 persen), hutan skunder seluas 43,6 hektare (9,9 persen), dan hutan lainnya mencapai 369,5 hektare (84,3 persen).

“Menyusutnya luasan hutan tersebut tidak hanya mengancam satwa endemik, namun juga masyarakat secara luas. Ancaman itu berupa banjir dan tanah longsor akibat menurunya kualitas dan luasan hutan,” paparnya.(ant/yan)

Perihal Del Prio
Saling berbagi, saling memberi, saling menerima. (^.~)v Saling silang tapi bukan kawin silang (^,^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: